Uang sebagai mana kita ketahui merupakan alat pembayaran yang sah di dunia. Menurut buku catatan tata boga, uang dipakai sebagai alat bayar sejak abad ke-6. Uang merupakan hal yang penting bagi masyarakat, apalagi zaman sekarang. Saya tidak akan membicarakan zaman dulu karena saya hidup di zaman sekarang. Orang bekerja untuk mencari uang. Pengemis mengemis untuk uang. Supir menyupir untuk uang. Pemasak (???) maksud saya koki, memasak untuk uang. Bahkan kita, sebagai remaja labil zaman sekarang sering merengek rengek meminta uang untuk jalan - jalan. Zaman memang telah berubah. Masyaallah *geleng - geleng kepala*
Setiap orang pasti memiliki kisah dan pengalaman sendiri tentang uang. Kali ini, saya akan menceritakan kisah seorang calon remaja berusia 12 tahun. Kisah tragis tentang dia dan selembar uang 100 ribu. Kisah yang membuat dia belajar bahwa Waktu adalah Uang. Berikut kisah selengkapnya:
Di pagi hari yang cerah, seorang siswi SMP yang kita inisialkan menjadi A berangkat ke sekolah. Dengan berbekal restu orangtua, selembar uang 20ribu, dan sekotak gudeg, ia memantapkan langkahnya menuju mobil. Sesampainya disekolah ia menjalani kegiatan rutinnya dengan teman - teman. Harinya berjalan dengan sangat indah. Namun, sepulang sekolah, dia mendapati bahwa dirumah tidak ada makanan yang bisa dimakan. Akhirnya, ia bersama abang dan bunda nya duduk bersama dan berunding, memutuskan akan memesan apa. Ditengah - tengah mereka, tergeletak selembar uang 100ribu. Sayangnya, musyawarah mereka tidak membuahkan hasil. Akhirnya mereka melakukan undian. Setelah diambil, isi undian tersebut adalah McDonald. A pun beranjak untuk mengambil telfon genggamnya. Pip-pop-pep, ia menekan tombol. Setelah telfon tersambung, A berbasabasibusuk dengan si mas mas penerima telfon. Belum menyebutkan pesanannya, telfon terputus. Ternyata hai ternyata.........pulsa A habis. Abang dan bunda A pun memasang tampang seram. Selang beberapa detik kemudian, seseorang mengetuk pintu. Rewang keluarga membuka pintu dan menyampaikan bahwa gas di rumah A habis. Wajah - wajah di dalam ruangan pun tampak abstrak. Akhirnya, dengan tangan gemetar, A menyerahkan selembar uang 100ribu itu kepada si rewang. Setelah rewang itu pergi, A bergegas mengambil laptop dan menulis postingan di blognya. Begitulah kisahnya.
Apa? Dimana tragisnya? Tragisnya.........A adalah saya. Pelajaran yang bisa diambil:
"Jangan sering sering menghirup gas"
Wassalam.
bubbte,
ciao!
anns ♥ ~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar